YOGYAKARTA – Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Jasa Raharja, Harwan Muldidarmawan, menegaskan pentingnya penerapan compliance dan ethics sebagai fondasi utama dalam membangun tata kelola perusahaan yang baik serta menjaga keberlanjutan organisasi jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan dalam kuliah tamu pada mata kuliah Business Ethics for Sustainability di Program MBA Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, yang berlangsung di Kampus Yogyakarta pada 31 Maret 2026.
Dalam pemaparannya, Harwan menjelaskan bahwa kepatuhan dan etika tidak hanya sebatas memenuhi regulasi, melainkan harus terintegrasi dalam seluruh proses bisnis dan pengambilan keputusan organisasi. Menurutnya, pendekatan ini diperkuat melalui manajemen risiko yang terukur serta budaya perusahaan yang menjunjung tinggi integritas dan akuntabilitas.
“Kepatuhan terhadap regulasi yang dijalankan dengan penuh amanah, disertai strategi manajemen yang tepat, tidak hanya memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik sebagai aset utama perusahaan, ” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa bagi perusahaan yang bergerak di sektor layanan publik, keseimbangan antara kepatuhan, etika, dan kinerja menjadi faktor krusial dalam menghadirkan layanan berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Harwan memaparkan bahwa PT Jasa Raharja menempatkan etika sebagai fondasi dalam kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC). Hal ini diwujudkan melalui penerapan Code of Conduct, penguatan budaya integritas dengan prinsip zero tolerance to fraud, serta integrasi etika dalam seluruh lini bisnis dan layanan.
Pendekatan tersebut juga didukung sistem digital seperti ekosistem GRC dan JRCare guna meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta kecepatan layanan kepada masyarakat. Sebagai perusahaan yang mengemban amanah publik, Jasa Raharja memastikan pengelolaan dana dan penyaluran santunan dilakukan secara adil, inklusif, dan bertanggung jawab.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar FEB UGM, Prof. Amin Wibowo, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Harwan sebagai praktisi di dunia industri. Ia menilai, kehadiran praktisi memberikan pengalaman langsung (first-hand experience) kepada mahasiswa terkait implementasi etika bisnis dan keberlanjutan di dunia kerja.
“Kolaborasi antara akademisi dan praktisi menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran di MBA FEB UGM, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan, ” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh dosen FEB UGM Wuri Handayani ini diikuti sebanyak 57 peserta dan turut dihadiri Guru Besar FEB UGM, Prof. Eko Suwardi. Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa melalui berbagai diskusi kritis mengenai isu etika bisnis dan keberlanjutan organisasi.
